Sejarah Situs Kota Banyumas (01)

Bagikan postingan
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares

  Dalam perjalannya yang panjang Kota Banyumas nampak bagaikan kota tua yang terlupakan. Padahal kurang lebih 350 tahun tahun kota ini pernah menjadi pusat kekuasaan birokrasi paling penting di Lembah Serayu. Kini Kota Banyumas hanya berstatus kota kecamatan dengan dua belas desa. Tetapi sisa-sisa kebesaran masa lalu, masih bisa dilacak dari toponim nama kota dan desa yang mengelilingi Kota Banyumas.

Toponim Banyumas terbilang unik. Toponim banyumas adalah toponim Jawa yang dikelilingi desa dan kota dengan toponim Sunda. Karena itu menyingkap sejarah masa lalu Kota Banyumas akan sia-sia jika hanya mengandalkan tradisi Jawa Majapahit atau Mataram. Tradisi Sunda, khususnya Sunda Galuh Kawali harus disertakan jika ingin memperoleh perspektif masa lalu Banyumas yang lebih utuh, lengkap dan konprehensip.

Sampai  akhir abad ke-14 M, daerah Lembah Serayu Banyumas masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh Kawali dan Kerajaan Pajajaran Pakuan. Karena itu berbagai legenda dan tradisi lisan yang berkembang di Kota Banyumas, ada yang dapat dilacak asal-usulnya pada tradisi lisan dan tulis Kerajaan Galuh Kawali. Salah satu legenda rakyat Banyumas yang paling mendekati sejarah Kerajaan Galuh Kawali pada abadke 7 – 9 Masehi adalah Legenda Kadipaten Selarong.

Toponim selarong bisa ditafsirkan dari sudut bahasa Sunda maupun bahasa Jawa. Dan jika kedua penafsiran itu digabungkan akan mempertajam sejarah situs Banyumas pada saat terjadinya proses transisi dan akulturasi empat kebudayaan besar di Pulau Jawa yang berlangsung dikota Banyumas, yakni kebudayaan Hindu-Buddha, kebudayaan Islam, kebudayaan Jawa dan kebudayaan Sunda. Hasil pergulatan, tarik menarik kepentingan, dan penaklukan dalam proses akulturasi empat kebudayaan besar itu, terjadilah proses adaptasi, sinkretisasi, dan toleransi, sehingga proses transisi berjalan dengan tenang dan damai. Islam berhasil menaklukkan Hindu-Buddha, tetapi tradisi Hindu-Buddha tidak benar-benar lenyap.

Tradisi Hindu Buddha melakukan adaptasi sehingga terserap menjadi tradisi Islam yang dikenal dengan Islam Kejawen. Hal sebaliknya terjadi dalam proses transisi dari kebudayaan Sunda ke arah kebudayaan Jawa. Di Banyumas berjalan lambat. Kebudayaan Jawa hanya mampu mengungguli kebudayaan Sunda dalam bidang politik,kekuasaan dan bahasa secara bertahap. Hal yang sama terjadi di bidang kesenian dan kesusastraan. Kebudayaan Jawa berhasil meminggirkan kebudayaan Sunda dengan langkah terseok-seok.

Lengger, calung Banyumasan, sintren, dalang jemblung, dan permainan Nini Towong, merupakan ragam kesenian warisan Sunda Galuh Kawali yang masih bertahan di Banyumas dengan berbagai adaptasi dan modifikasi dengan kebudayaan Jawa. Di bidang toponim nama kota, bahkan tradisi Jawa, nyaris kalah dengan skor telak, karena hanya berhasil mengganti beberapa toponim Sunda menjadi Jawa. Tiga toponim Sunda yang berhasil diubah menjadi toponim Jawa, adalah taponim Kalibening, Dawuhan dan Banyumas!. Sedangkan toponim Sunda lainnya tetap kukuh gagal tergantikan dengan toponim Jawa. Nama-nama tempat di sekitar kota tua Banyumas, seperti Somagede, Sokawera, Kejawar, Pekunden, Karangkamal, Kebasen, Dawuan ( di jawakan jadi Dawuhan), Cindaga, Rawalo, dan lainnya lagi, merupakan toponim Sunda yang masih lestari hingga sekarang.

Dua versi legenda Kadipaten Selarong

Legenda kota Selarong dalam tradisi lisan Banyumas ada dua versi, sebagaimana tersebut di bawah ini :

  • 1.Versi pertama , menceriterakan bahwa sebelum menjadi Kota Banyumas, nama kota itu adalah Selarong. Pada suatu ketika datang orang asing yang membuat resah masyarakat, sehingga ditangkap penguasa dan dijebloskan ke dalam penjara. Saat itu kota Selarong tengah ditimpa musibah kekeringan yang menyebabkan kota itu kesulitan air. Sungai Serayu menyusut drastis, sumur-sumur mengering, penduduk dengan susah payah menggali dasar sungai yang kering untuk membuat belik. Tapi ketika orang asing tadi dimasukkan ke dalam penjara, tiba-tiba datang awan gelap menaungi kota. Tak lama kemudian hujan deras mengguyur Kota Selarong. Saking gembiranya penduduk berlari-larian keluar sambil berteriak-teriak sahut menyahut. Ada yang berteriak,”banyu!”. Ada pula yang berteriak,”emas!”. Terbentuklah kosa kata banyumas, yang kemudian dijadikan pengganti nama Kota Selarong menjadi Kota Banyumas. Orang asing yang ditahan baru dilepaskan setelah situasi tenang. Setelah keluar dari tahanan, dia berjalan ke arah barat, menuju Padepokan Embah Glagah Amba. Di sana orang asing itu berguru kepada Mbah Glagah Amba, sampai meninggal dan dimakamkan di situ. Tentu saja yang berteriak-teriak tadi adalah orang Jawa. Banyu adalah bahasa Jawa. Nama Glagah Amba juga nama Jawa. Dengan demikian kisah versi pertama ini muncul  setelah Kabupaten Banyumas terbentuk yang dipungut dari kisah yang lebih lama.
  • 2.Versi kedua, menceriterakan bahwa wilayah itu termasuk ke dalam wilayah Kadipaten Selarong. Suatu ketika terjadi kemarau panjang yang menyebabkan terjadinya bencana kekeringan hebat. Sumber air yang ada nyaris kering, air sungai pun menyusut drastis. Ki Ajar Pamungkas, yang memimpin sebuah padepokan di dukuh Dawuan, menduga kekeringan itu akibat murka para dewa kepada penduduk Kadipaten Selarong. Karena itu Ki Ajar mengingatkan Sang Adipati agar bertapa di Lereng Gunung Slamet untuk mendapatkan pertolongan dewa. Setelah Sang Adipati bertapa, datanglah ke alun-alun Kadipaten Selarong, orang sakti yang bernama Ki Langlangjati. Orang sakti ini segera menancapkan tongkatnya di alun-alun Kota Selarong. Tak berapa lama kemudian hujan pun turun dengan derasnya. Bencana kekeringan yang menimpa Kadipaten Selarong pun berakhir. Ki Langlangjati, kemudian tinggal di Dawuan. Karena di Dawuan juga kesulitan air, dengan sendirinya Padepokan Ki Ajar Pamungkas mengalami kesulitan air. Dia pun menyerahkan padepokannya kepada Ki Langlangjati dan berguru kepadanya. Ki Langlangjati mengambil alih pimpinan padepokan. Untuk memenuhi air padepokan Ki Langlangjati menancapkan tongkatnya di halaman Padepokan, hingga terbentuklah sumber air bening yang dianggap suci. Ki Langlangjati merubah namanya menjadi Ki Ajar Gunung Padang. Sumber air bening itu disebut Sumber Tirthas.
 Rangkaian kisah versi pertama tersebut di atas terasa sangat kabur dan dangkal. Mbah Glagah Amba kelak diidentifikasi sebagai Mbah Kalibening. Ceritera versi pertama baru muncul setelah Kota Banyumas terbentuk. Memang versi pertama dimaksudkan untuk menjelaskan asal usul Kota Banyumas, sedangkan versi kedua yang lebih tua dan lebih lengkap menceriterakan asal usul Sumur Pasucen dan asal usul Padepokan Kalibening.Dalam kisah versi ke dua, rupanya Ki Ajar Gunung Padanglah yang kemudian memberi nama padepokan yang baru dipimpinnya itu, Padepokan Sokalima. Bukankah di sebelah timur Kejawar, tidak jauh dari Kalibening  juga ada desa yang namanya Sokawera, yang telah terbentuk pada masa itu?
Padepokan Sokalima yang didirikan Ki Ajar Gunung Padang atau Ki Langlangjati itu, adalah bagian dari kultus pemujaan kepada Bima, ksatria Pendawa. Bima pernah berguru pada Dahyang Drona, Pendeta Sakti guru Korawa dan Pandawa dalam kisah Mahabharata. Dahyang Drona  bermukim di Padepokan Sokalima. Ketika sedang berguru kepada Dahyang Drona di Sokalima, Bima ditugaskan untuk mencari air suci Parwitasari, sebagai syarat agar Dahyang Drona dapat mengajarkan ilmu Pelepasan yang sedang dicari Bima. Sekalipun Bima berhasil membawa air suci berkat bantuan Dewa Kerdil Nawaruci, ternyata Dahyang Drona tidak mengakui air yang dibawa Bima itu sebagai air suci. Terjadilah perdebatan panjang lebar  antara Dahyang Drona dengan Nawaruci. Dalam perdebatan itu sebenarnya Dahyang Drona mampu mempertahankan argumennya bahwa air suci milik para dewa yang berhasil di ambil Bima itu bukan air Prawitasari. Air milik para dewa itu adalah air suci Amerta Jiwani.
Karena terdesak dalam perdebatan itu, kemudian Nawaraci membunuh Dahyang Drona dan membuangnya di muara Teluk Penyu, Lautan Selatan. Bima yang tidak sampai hati melihat mayat Dahyang Drona yang terdampar di pantai  Pulau Nusakambangan itu, menghidupkan kembali gurunya itu  dengan air suci Amerta Jiiwani yang berhasil diambilnya dari Suralaya dengan bantuan Nawaruci. Dahyang Drona pun kembali ke padepokannya, Padepokan Sokalima. Ketika Kerajaan Majapahit menguasai wilayah itu pada tahun 1413 M, Padepokan Sokalima, nama yang dikenal dalam tradisi Sunda, tetap dipertahankan. Akhirnya Kerajaan Kediri-Majapahit jatuh juga di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Demak (1527 M). Maka sebagian besar wilayah Kediri-Majapahit seperti Wirasaba dan Pengging pun serentak menjadi kadipaten muslim. Nama Padepokan Sokalima dirubah menjadi Padepokan Kalibening. Ki Glagah Amba, pemimpin padepokan pada masa transisi itu pun menjadi mualaf masuk Islam mengikuti patronnya Kademangan Kejawar dan Kadipaten Wirasaba. Sumber Tirthas yang ditemukan Ki Linggajati, diubah namanya disesuaikan dengan kosa kata Jawa: Sumur Pasucen. Tetapi nama gunung di sebelah selatan padepokan, tetap dibiarkan dengan nama Gunung Sokalima, sebuah gunung yang merupakan rangkaian dari Pegunungan Serayu.
Tahun 1530 M, yang merupakan tahun jatuhnya Pengging ke bawah kekuasaa Demak, bisa dijadikan patokan proses transisi dan Islamisasi Wirasaba dan Kademangan Kejawar. Sebab Pengging adalah patron Wirasaba. Sebelumnya Kadipaten Pasirluhur dibawah Adipati Banyakbelanak, sudah mendahului menjadi kadipaten Islam (1515 M).Ketika Kadipaten Wirasaba berdiri pada tahun 1413 M, Padepokan Kalibening ditempatkan dibawah kekuasaan Kademangan Kejawar yang berstatus sebagai daerah sima atau perdikan, dengan tugas menyelenggarakan ritual-ritual suci keagamaan yang berpusat di Sokalima. Kademangan Kejawar sejak awal sudah berperan sebagai penjaga salah satu tempat paling suci. Sebab di Sokalima ada Sumber Tirthas yang dalam mitologi Hindu merupakan sumber air suci atau tirta amerta.Tirthas adalah air yang dipercaya dapat mensucikan manusia dan alam sekitarnya, agar terbebas dari aneka macam bencana. Demikianlah Sumur Pasucen Kalibening, sudah menjadi pusat ritual keagamaan Hinduisme sejak masa Kerajaan Galuh Kawali, yang terus berlanjut pada masa Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Kediri Majapahit. Kerajaan Majapahit sebagai penguasa pendatang, sebenarnya hanyalah melanjutkan tradisi ritual keagamaan Hindu yangsudah lebih dulu dilaksanakan penguasa Galuh Kawali di tempat itu. Hal ini bisa dilacak dengan toponim nama-nama tempat di sekitar Kota Banyumas yang berakar dari tradisi Sunda Galuh Kawali.
Toponim Di Sekitar Kota Tua Banyumas.
Sejumlah toponim nama-nama di wilayah sekitar Kota Banyumas, sebagian besar menunjukkan adanya aktivitas sosial kemasyarakatan dan keagamaan tingkat kademangan pada masa lalu,dari sebuah kadipaten bercorak Sunda yang berada dibawah kendali Kerajaan Galuh Kawali. Misalnya saja toponim cindaga, yang sekarang menjadi nama jembatan Serayu di sisi timur Rawalo, berasal dari tradisi Sunda yang menunjukkan bahwa dahulu di wilayah itu banyak tumbuh pohon kandaga atau kananga yang dalam persepsi orang Jawa berubah menjadi pohon mas atau pohon tembaga. Toponim kebasen, nama sebuah desa di sisi timur Serayu-Banyumas, menunjukkan bahwa daerah itu adalah tempat tinggal para pengrajin pembuat barang-barang dari tanah liat, seperti periuk, belanga, kuali dan alat-alat dapur lainnya. Toponim Sokalima sebagai nama padepokan, berasal dari kata suka yang artinya gemar dan lima yang artinya lima larangan dalam ajaran Hinduisme. Jadi Sokalima artinya padepokan yang mengajarkan para cantriknya suka menjauhi lima larangan, yakni larangan main perempuan, berjudi, mencuri, menghisap candu atau opium, dan larangan minum minuman keras.
Toponim Dawuan, nama desa di sebelah barat Kota Banyumas tempat makam Adipati Mrapat dan para bupati keturunannya, menunjukkan bahwa sebelum jadi desa dengan kompleks makam para bupati Banyumas, pada masa lalu di situ ada tempat untuk mengalirkan air dari sumbernya ke ladang, sawah, pekarangan atau tempat lain. Dalam bahasa Sunda dawuan mengandung arti, ”tempat anu nyimpangkeun cai walungan, sina ngocor ka lembur atanapi ka pasawahan”. Artinya, dawuan ialah tempat untuk mengatur pembagian air, agar supaya mengalir ke desa atau ke sawah. Setelah banyak wong Banyumas hasil kawin campur Jawa-Sunda Lembah Serayu tinggal di wilayah itu, nama dawuan berubah jadi dawuhan. Bisa jadi karena Adipati Mrapat, Pendiri Kota Banyumas paring dawuh, agar di tempat itu kelak dibangun komplek makam bagi dirinya dan para bupati turunannya atau para bupati yang melanjutkan kepemimpinannya.Jadilah kata dawuan berubah menjadi dawuhan. Suatu penyimpangan makna yang jauh sekali.
Bagaimana dengan toponim karangkamal? Kamal dalam kamus bahasa Sunda mengandung arti buah asam. Jadi ditempat itu dahulu banyak tumbuh pohon asam. Adapun toponim nama kejawar, desa kuno yang menjadi cikal bakal Kadipaten Banyumas setelah Adipati Mrapat pindah dari Wirasaba, juga merupakan toponim Sunda. Ada yang menafsirkannya bahwa toponim kejawar berasal dari kata ajah-awar, yang penulis sendiri sebagai orang Jawa Banyumas malah belum pernah dengar. Cari-cari di dalam kamus bahasa Banyumas, juga tidak ketemu. Entahlah kalau di dalam kamus Jawa Kuno. Tapi dalam kamus bahasa Sunda, ditemukan kata jawer. Rupanya toponim kejawar berasal dari akar kata jawer atau jengger ayam jago, sehingga terbentuk kata kejawer. Dari kata kejawer lalu berubah jadi kata kejawar. Artinya tempat itu adalah tempat gelanggang sabung ayam, tempat latihan seni bela diri dan kanuragan dan tempat punggawa yang bertanggung jawab atas keamanan tempat tinggal. Dihubungkan dengan tempat suci Sokalima atau Kalibening, Kejawar merupakan tempat tinggal punggawa yang bertanggung jawab atas keamanan daerah sima, termasuk Sokalima tentunya.
Toponim sokawera, sebuah desa di sebelah timur Kejawar, berasal dari kata soka yang artinya suka dan wera, kembang sepatu. Jadi toponim sokawera menunjukkan daerah itu merupakan tempat tinggal para petani yang menanam aneka jenis bunga-bungaan untuk berbagai macam keperluaan perayaan keagamaan dan perayaan lainnya. Ciri khas ritual Hinduisme memang menggunakan aneka macam bunga. Jika kita terus bergerak ke timur, kita akan temukan nama kota kecamatan, Somagede. Toponim somagede, berasal dari kata soma yang artinya bulan dan gede yang artinya besar. Toponim somagede menunjukkan bahwa tempat itu merupakan pusat penyelenggaraan ritual malam Syiwa Ratri pada tanggal 14 Maret atau bulan Caitra, yang merupakan awal tahun baru Saka dalam visi agama Hindu aliran Syiwa yang dianut Kerajaan Galuh Kawali, Kerajaan Pajajaran dan juga Kerajaan Majapahit. Bagaimana pula dengan toponim Pekunden?
Ada orang yang berpendapat bahwa kata pekunden berasal dari kata pepunden yang berubah menjadi pekunden. Pepunden berasal dari akar kata pundhen, artinya dalam kamus bahasa Banyumas adalah pujaan. Pepunden artinya yang dipuja. Konon di Pekunden ada makam yang dipuja atau dipundi-pundisebagai makam keramat. Jadi desa Pekunden atau Pepunden menurutnya adalah sebuah desa yang keramat bin angker alias desa suci. Konon di situ dimakamkan mayat tanpa kepala dari dua orang pemberontak, yakni Suradenta dan Suradenti. Kepalanya berhasil dipenggal Untung Surapati, dan diserahkan kepada Sunan Amangkurat II di Kartosuro.
Tetapi di Sokaraja Kidul ada grumbul Pekunden, yang tidak dianggap suci atau disucikan. Dulu penduduknya hidup sebagai pengrajin membuat gerabah, penjajahit, penjulam kain batik, pembuat aneka macam sulaman dan ketrampilan lain yang ada hubungannya dengan sandang. Dalam bahasa Sunda toponim Pekunden bisa jadi berasal dari akar kata kundang, pekundang, kemudian berubah jadi pekunden. Kundang adalah adalah kantong, tas atau karung kecil tempat menyimpan bahan jamu, seperti lempuyang, kunir, jahe dan lainnya lagi. Kata-kata dalam bahasa Jawa yang agak mirip-mirip dengan kata kunden, mungkin konde. Dari kata konde terbentuk kata pekonden, lalu berubah jadi pekunden. Jadi toponim pekunden tidak ada hubungannya dengan keramat. Arti toponim pekunden adalah tempat yang penduduknya hidup sebagai pengrajin pembuat tas, penjahit, sulaman, tusuk konde, dan bertani aneka macam tanaman jamu. Pekunden sebagai desa yang penduduknya banyak menamam tanaman jamu, mungkin lebih menggambarkan realitas masa itu, dari pada menganggapnya sebagai desa keramat. Aneka ramuan jamu juga diperlukan dalam ritual keagamaan Hindu.Wallaualam
sumber :

Comments are closed.