Sejarah Situs Kota Banyumas (06)

Bagikan postingan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kunjarakunjadesya

Purbasora tewas dalam pertempuran melawan kemenakannya, Rake Sanjaya. Rake Sanjaya berhasil menguasai kembali tahta Galuh warisanSenna, ayahnya yang sempat lepas. Kemudian tercapai kompromi dan perdamaian hasil musyawarah sesama keturunan Wretikandayun, yakni Sang Hyang Sampakwaja, Sang Hyang Kedul dan Rake Sanjaya. Keputusannya, tahta Galuh diperintah oleh dua orang yakni Permana Dikusuma dan Tamperan Barmawijaya. Rake Sanjaya diakui sebagai Maharaja yang berkuasa atas seluruh wilayah Kerajaan Galuh.

Permana Dikusuma adalah turunan Purbasora dan Tamperan Barmawijaya adalah turunan Senna lewat Rake Sanjaya. Dengan kata lain Tamperan adalah putra Sanjaya dengan istrinya dari daerah Bogor. Temperan yang naik tahta Galuh mewakili Permana Dikusuma, masih sangat belia, hingga kelak dengan mudah terlibat cinta dengan Dewi Pangreyep, istri muda Permana Dikusuma yang seusia dengannya. Meraka berdua berusia sekitar sembilan belas tahun ketika saling jatuh cinta. Perkawinan Dewi Pangreyep dengan Tamperan, menghasilkan seorang putra, yakni Rakean Banga, yang kelak menjadi Raja Galuh Timur yang berpusat di Pasirluhur. Rakean Banga dalam tradisi Babad Pasir dikenal sebagai Arya Bangah.

Setelah sukses menaklukan Galuh dan mendapat pengakuan sebagai Maharaja dari Dahyang Sampakwaja dan Sang Hyang Kidul, Rake Sanjaya pun mengangkat dirinya sebagai Maharaja Rake Mataram dan mengendalikan kerajaannya yang berpusat di Kunjarakunjadesya. Dimanakah letak Kunjarakunjadesya yang masih diperdebatkan sejarawan?

Van der Meulen mula-mula sempat menempatkan Kunjarakunjadesya di Kalimantan, tetapi akhirnya diletakkan di Gedongsanga, arah timur laut Gunung Kembar Sindara-Sumbing. Jadi letak pusat Mataram Hindu itu diduga ada di antara lokasi Kalingga dan mata air Sungai Serayu, di sekitar wilayah tempat Sanjaya meletakkan Patung Bima Lukar. Kunjarakunjadesya, menurut Dr.Purbocaroko, berasal dari kata kunja yang berarti gajah, sehingga kunjarakunjadesya diartikan sebagai wilayah gajah. Purbocaroko menempatkan Kunjarakunjadesya di Sleman, dengan alasan kata sleman bersasal dari saliman, yang artinya gajah. Van der Meulen mendukung pendapat yang menolak kata sleman berasal dari saliman. Sleman berasal dari salimaR, suatu jenis tanaman, bukan gajah atau liman, bantah van der Meulen. Bisa jadi yang dimaksud kunjarakunjadesya bukan hanya hutan gajah, sebagaimana diduga van der Meulen. Tetapi ada makna lain yang harus dicari untuk mengungkap misteri dibalik kata kunjarakunjadesya.

Kunjarakunjadesya harus dicari di sepanjang sungai Serayu, karena dari sanalah Senna yang membayangkan dirinya sebagai Bima mengawali penyusuran Sungai Serayu dari Cindaga sampai ke mata air Sungai Serayu di kaki Gunung Dieng. Bima dalam mitologi kisah wayang Bima Bungkus, berhasil menundukkan Gajah Sena, yang ingin berinkarnasi atau menitis ke dalam tubuh manusia. Permohonan Gajah Sena dikabulkan Batara Guru. Gajah Sena berwarna putih itu akhirnya dituntun Dewa Bayu untuk memecahkan bungkus yang menutupi tubuh bayi Bima  di tengah hutan. Dengan menggunakan gadingnya bungkus bayi Bima pun berhasil dirobek, lahirlah Bima sebagai anak kecil yang sudah berpakaian ksatria lengkap, mirip kisah Minerva atau Athena, Putri Zeus dalam mitologi Yunani yang juga lahir dengan mengenakanpakaian perang wanita lengkap.
Perang tanding pun pecah antara Bima cilik dengan Gajah Sena. Dalam peperangan itu, Bima dengan cepat tumbuh menjadi pemuda remaja dan berhasil membunuh Gajah Sena dengan kuku pancanakanya. Gajah Sena tewas, tapi berhasil berinkarnasi ke dalam raga Bima, sehingga Bima menyandang nama Brata Sena atau Bharata Sena. Dengan demikian kunjarakunjadesya harus dihubungkan dengan letak patung Bima Lukar, yakni suatu wilayah di kaki gunung Dieng. Kata desya juga ada kemiripan dengan kata dieng, setidak-tidaknya ada persamaan huruf d.

Prof.Dr.Sugeng Priyadi sempat menduga, bahwa letak Kunjarakunjadesya ada di Kedunguter, Banyumas, dengan alasan di daerah Kebasen ada sungai, yang bernama Sungai Gajah. Tapi di Kedunguter tidak pernah ditemukan bangunan lingga atau pun patung Bima. Yang pernah ada adalah arca lancingan dari jaman yang masih amat jauh dari jaman Senna dan Rake Sanjaya, yakni berasal dari tahun 3000 SM. Sedang Senna dan Rake Sanjaya hidup pada abad ke-8 Masehi. Kunjarakunjadesya, mengandung dua kali kata kunja, karena itu mestinya bukan hanya bisa diartikan sebagai wilayah hutan gajah, tetapi bisa juga diartikan sebagai wilayah gajah-gajah atau wilayah dua gajah. Siapakah yang dimakud dua gajah? Jawabannya jika secara topografi sulit ditemukan, mitologi Hinduisme mungkin bisa dijadikan alternatip jawabannya.

Yang dimaksud dengan dua gajah tidak lain adalah Bima sendiri yang bernama Sena dan ruh Gajah Sena yang menyatu dalam raga Bima. Jadi Bima adalah representasi dua oknum gajah menjadi satu dalam dirinya, yang menyebabkan Bima punya kekuatan dua kali kekuatan Gajah. Itu sebabya Bima dengan mudah membuat sungai Serayu. Kunjarakunjadesya sebagai wilayah dua gajah, juga simbol dari Dewa Indra dan Dewa Bayu. Kedua dewa itu dilukiskan dalam mitologi para dewa sebagai gemar bepergian dengan mengendarai gajah. Dalam kisah Bima Bungkus, Dewa Bayu digambarkan menuntun Gajah Sena yang berwarna putih. Demikian pula Dewa Indra, sering dilukiskan berkeliling di Suralaya dengan menunggang gajah jika akan menghadiri undangan rapat para dewa dari Betara Guru. Batara Indra sering dilukiskan sebagai dewa yang paling bertanggung jawab atas keamanan istana para dewa di Suralaya. Demikianlah Kunjarakunjadesya, dapat diartikan wilayah Dewa Indra dan Dewi Bayu di dunia, yang tidak lain tempatnya di lereng selatan kaki Gunung Dieng, tidak jauhdari Patung Bima Lukar. Wilayah itu merupakan pusat awal Kerajaan Mataram Hindu, sebelum akhirnya berpindah pindah, untuk suatu alasan yang tidak bisa kita ketahui sebab-sebabnya. Mungkin penyebabnya adalah bencana alam yang beberapa kali menimpa ibu kota Mataram Hindu. Coba kalau dulu Rake Sanjaya memindahkan pusat Mataram Hindu ke Kedunguter, Banyumas. Pasti aman dari bencana, ya ?.

Banyak atau Angsa,Binatang Yang Disucikan.

Jangan lupa keris Sang Adipati Mrapat pun diberi nama gajah, yakni keris Gajah Hendra. Diam diam Sang Adipati Mrapat Jaka Kahiman mengakui bahwa leluhurnya pada masa lalu di samping menyembah Dewa Syiwa atau Batara Guru, juga memuja Dewa Indra sebagai dewa hujan, awan dan binatang air seperti angsa. Gajah Hendra bisa diartikan Gajah milik Dewa Indra. Keris Gajah Hendra, berarti keris pemberian Dewa Indra yang gemar menunggang gajah. Leluhur bangsa Galuh juga memuja binatang air angsa sebagai simbol pemujaaan kepada Dewa Awan yang mendatangkan hujan, jauh sebelum Hinduisme dipeluk leluhur bangsa Galuh. Itu sebabnya Kerajaan Galuh Kawali dan Kerajaan Pajajaran mempunyai tradisi berupa larangan memakan daging angsa. Memakan daging angsa merupakan suatu pamali atau larangan leluhur bangsa Galuh.

Kita juga dengan mudah menemukan nama-nama ksatria Galuh dan Pajajaranyang memakai kosa kata banyak. Misalnya dalam kisah Raden Kamandaka-Dewi Ciptarasa. Kita jumpai nama-nama Banyakcatra, Banyakngampar, Banyakbelabur, yang dilanjutkan menjadi nama-nama para kstaria Kadipaten Pasirluhur, seperti Banyakkesumba, Banyakbelanak, Banyakgaleh dan lainnya lagi. Di Kerajaan Majapahit juga ada tokoh dengan nama Banyakwide. Di Banyumas dalam Perang Diponegoro juga muncul nama Banyakwide. Akhirnya ada mitos juga di daerah Banyumas, khususnya turunan Adipati Wirasaba VI, pantangan makan daging angsa atau daging banyak. Sebab salah satu penyebab malapetaka yang menimpa Sang Adipati Wirasaba VI dalam tragedi Sabtu Pahing, konon akibat Sang Adipati melanggar larangan leluhurnya, yakni makan daging banyak yang disuguhkan Ki Ageng Bener. Pamali memakan daging banyak yang menjadi tradisi Kerajaan Galuh Kawali itu, adalah sisa-sisa bentuk pemujaan kepada Dewa Awan, Dewa Hujan atau Dewa Indra dalam visi Hinduisme. Leluhur bangsa Galuh memang memandang dirinya adalah keturunan luh atau air yang semuanya berasal dari Dewa Awan. Demikianlah nama angsa atau banyak yang dijadikan nama sejumlah ksatria Galuh-Pajajaran-Majapahit dan Kadipaten Pasirluhur, menunjukkan bentuk sisa-sisa pemujaan kepada Dewa Awan dan Dewa Indra. Demikian juga pamali atau larangan makan daging banyak.

Tradisi memuja Dewan Awan juga tampak pada benda-benda perlengkapan pusaka Kerajaan Surakarta yang diwujudkan dalam bentuk patung angsa mini, yang mereka sebut banyak dhalang. Demikianlah pemakaian nama banyak pada para ksatria Pasirluhur dan Galuh seperti telah disebut di atas, bukan menunjukkan bahwa para ksatria itu secara biologis merupakan trah banyak. Sebab mereka memang bukan turunan angsa. Mereka adalah turunan leluhur bangsa Galuh yang dulu para leluhur mereka menganggap angsa atau banyak sebagai binatang suci, sekaligus merupakan simbol pemujaan kepada Dewa Awan, Dewa Hujan dan Dewa Indra. Para Dewa yang dipuja itu diharapkan menjadi pelindung mereka ketika mereka membangun peradaban sungai dan pantai, serta menjadi putra-putra sungai yang dengan gagah berani menjadipenguasa air, sungai, danau, dan lautan dengan gelombang dan ombaknya untuk mewujudkan kesejahteraan mereka di muka bumi.

Jauh sebelum dunia berteriak-teriak agar komunitas penduduk dunia menyelamatkan air sebagai sumber kehidupan penting di muka bumi, leluhur bangsa Galuh sudah lebih dahulu merintisnya dan memeloporinya. Menjaga air dan lingkungan kehidupan sudah lama menjadi kearifan lokal bangsa Galuh. Dan tentu saja seharusnya juga menjadi kearifan lokal penduduk Lembah Serayu, khususnya wong Banyumas

sumber :

Comments are closed.