Mbah Lambak Kesatria Banyumas

Bagikan postingan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Hakekat hidup adalah pengabdian, mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengabdi untuk sesama manusia serta pengabdian untuk semesta alam. Sedang dakwah adalah jalan yang di pilih beliau Mbah Lambak sebagai penyebar Agama Islam diatas lembah serayu yang subur banyumas raya.

Perkembangan sejarah wilayah Banyumas biasanya tidak terlepas dari Adipati Mrapat atau Joko Kaiman yang merupakan sosok kesatria Banyumas yang adil dan  bijaksana. Mau berbagi atas apa yang Tuhan berikan dengan saudaranya dengan membagi Banyumas ke dalam 4 (empat) wilayah. Peran tokoh di masa itu sangat penting selain sebagai pemimpin masyarakat juga sebagai pemimpin spiritual. Tidak terkecuali dengan sejarah awal mula banyumas oleh tokoh besar yaitu mbah lambak.

Ada berbagai versi mengenai sosok beliau yang di kenal masyarakat Banyumas sebagai Mbah Lambak. Referensi yang ada banyak menyebutkan bahwa mbah lambak adalah penyebar Islam yang berasal dari negeri seberang dan terbawa ombak di lautan hingga terdampar di laut cilacap. Selanjutnya menyusuri perjalanan ke pusering jawa menuju arah gunung slamet. Beliau melebur bersama masyarakat desa yang pernah di lalui hingga menyebarkan nilai-nilai luhur akhlak dan budi pekerti. Wilayah atau desa yang pernah di singgahi menjadi tetenger beliau sehingga banyak tempat dari Cilacap ke Banyumas yang merupakan hasil nama yang direkomendaikan kepada mayarakat setempat.

Perjalanan spiritual mbah lambak yang memang terjun langsung di masyarakat serta dengan ditopang tirakat olah batin dan rasa membuat beliau menjadi sosok yang di hormati dan disegani. Berbagai ilmu kanuragan, ilmu pengobatan, bahkan ilmu pertanian juga ia kuasai. Perjalanan spiritualnya mencapai puncaknya hingga ia menetap di desa Dawuhan yang hingga suatu saat nanti bernama dukuh Kalibening.

Berjuang untuk pendidikan Agama di desa Dawuhan hingga mendirikan pesantren atau padepokan untuk belajar ilmu agama serta kanuragan bagi murid-muridnya. Dari banyaknya santri yang belajar beliau Mbah Lambak ada salah satu yang memang dipilih oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dari sikap dan adabnya sungguh sangat mulia, kepada gurunya ta’dzim serta begitu cepat dalam menyerap ilmu-ilmu yang di pelajarinya. Santri itulah yang besar nantinya lebih di kenal dengan mbah kalibening dengan nama lain syekh maulana rumaini dan menjadi anak mantu mbah lambak. Maulana rumaini menikah dengan anak angkat mbah lambak yang saat ini di kenal dengan mbah putri di komplek kalibening banyumas.

Mbah lambak merupakan sosok yang sangat fenomenal menjadi penyebar agama islam di Dawuhan yang menjadi cikal bakal lahirnya kabupaten Banyumas. ilmu yang diwariskan kepada muridnya merupakan ajaran agama yang cinta damai. Nilai-nilai agama, budaya, kesenian hingga ilmu kanuragan banyak ia turunkan kepada masyarakat Banyumas terlebih sifat kesatria yang menjadi ciri khas warga Banyumas.

Dalam beberapa masyarakat Banyumas beranggapan makam mbah lambak berada di sebelah barat makam Joko Kahiman, namun berdasarkan pawisik yang ada, justru makam beliau adalah di komplek makam Kalibening yaitu Makam Eyang Glagah Amba. Sedang yang ada di komplek makam dawuhan merupakan petilasannya. Beliaulah Mbah Lambak sosok yang sangat sederhana dan memang sangat jarang sekali yang tahu tentang sepak terjang beliau dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada manusia serta pengabdian kepada alam raya. Sisa-sisa umurnya beliau abdikan tanpa pamrih untuk padepokannya. Itulah mungkin justru sosok sederhana beliau yang jarang muncul dalam catatan perkembangan sejarah banyumas. namun sebagai keturunan leluhur banyumas saya tetap bangga kepada beliau mbah lambak yang telah berjuang untuk masyarakat banyumas.

Pengabdian bukanlah kehinaan melainkan kemuliaan, justru tujuan hidup manusia adalah pengabdian yaitu darma. Baik itu darmabakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, bakti kepada orang tua, pengabdian kepada sesama manusia untuk saling tolong menolong serta menjaga kelestarian alam raya dengan tulus keikhlasan. Janganlah sombong atas apa yang kita punya, karena semua itu hanyalah titipan Tuhan semata. Marilah kita luruskan kembali hakikat dan tujuan hidup manusia yaitu dengan mengabdi mengabdi dan terus mengabdi. belaar sejarah agar hidup semakin bijak dengan menelisik jejak warusan leluhur nusantara.  met beraktifitas sobat kompaianer dan pembaca yang budiman. Salam hangat dari desa 🙂

sumber : http://www.kompasiana.com/banyumasku/mbah-lambak-kesatria-banyumas_552bee336ea834876b8b456d

Comments are closed.