Cerita Ciung Wanara, Antara Legenda dan Sejarah Galuh

Bagikan postingan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dahulu di negara Galuh Pakuan, bertahtalah seorang raja bernama Sang Prabu Permana Di Kusuma. Negaranya subur makmur tak kurang suatu apa. Tidak heran jika negara ini sangat termashur. Baginda mempunyai dua orang isteri. Isteri yang pertama bernama Dewi Pohaci Naganingrum, sedangkan yang kedua bernama Dewi Pangrenyep.

Baginda Sang Permana di Kusuma telah lama memohon kepada Tuhan agar diberi putera, tapi telah sekian lama, kedua isterinya tidak mengandung. Sekalipun baginda telah memohon dengan tekun, tapi permohonannya belum terkabul juga.

Sang Baginda mempunyai seorang menteri yang sangat disayanginya bernama Aria Kebonan (Tamperan)

Seorang menteri yang menjadi kepercayaan baginda. Tidak mengherankan jika Aria Kebonan dapat keluar masuk istana dengan bebasnya.

Pada suatu hari, ketika sang Baginda sedang berbaring di kamar tidurnya, Aria Kebonan datang ke istana untuk menghadap kepada sang Baginda. Ketika Aria Kebonan mengetahui baginda sedang beristirahat, ia tidak jadi menghadap. Hatinya sangat menyesal tidak dapat langsung menghadap kepada rajanya.

Karena menyangka baginda sedang  tidur, Aria Kebonan mengeluh, “Alangkah senangnya menjadi seorang raja. Segalanya serba dilayani. Tidak seperti diriku ini, sekalipun telah bekerja keras, tapi tak bertemu dengan kesenangan. Alangkah bahagianya jika aku bisa menjadi raja.”

Sang raja yang mendengar keluhan Aria Kebonan, segera memanggilnya. Aria Kebonan yang mengira baginda tak mendengar keluhannya segara datang menghadap dan menyembah di hadapan rajanya.

“Kau ingin menjadi raja, Aria Kebonan?”

Aria Kebonan terkejut bukan kepalang, ia tak menyangka raja mendengar keluhannya. Karena merasa bersalah, Aria Kebonan tak dapat menjawab pertanyaan baginda.

“Jika benar-benar kau ingin menjadi raja, baiklah, aku akan memberikan kerajaanku, asalkan kau dapat menjalankan pemerintahan dengan adil dan jujur. Aku hendak pergi bertapa. Aku menitipkan kdua permaisuriku. Ingat, kau harus bertindak bijaksana selaku seorang raja,” kata baginda.

“Mohon ampun Tuanku atas kesalahan hambamu ini. Tapi jika sekiranya memang baginda percaya dan bersedia menyerahkan kerajaan Galih Pakuan ini kepada hamba, sudah tentu hamba akan mengikuti pesan baginda,” jawab Aria Kebonan.

“Syukurlah jika kau bersedia dan merasa sanggup. Mulai malam ini, dengan disaksikan oleh si Lengser, aku serahkan kerajaanku. Namamu sekarang kuganti menjadi Raden Galuh Barma Wijaya Kusuma.”

Setelah serah terima,  Baginda segera bersemadi dan lenyaplah Baginda dari hadapan Aria Kebonan dan Lengser. Di kemudian hari, Sang Prabu Permana di Kusuma, menjadi seorang Brahmana bernama Ajar Sukaresi.

Aria Kebonan sangat gembira. Ia berganti nama menjadi Raden Galuh Barma Wijaya Kusuma. Sekarang ia telah menjadi raja yang kaya. Sedangkan Lengser kawannya sesama menteri, sekarang harus menyembah  kepadanya.

“Lengser, sekarang juga kau harus memukul gong, dan umumkan kepada rakyat, bahwa Raja Sang Permana di Kusuma telah menjadi muda kembali. Dan ingat Lengser, kau dilarang membuka rahasia, jika jiwamu ingin selamat,” kata raja yang baru ini.

Lengser dengan hati agak kesal meninggalkan rajanya untuk memukul gong. Dengan berjalan kaki, Lengser memukul gong sambil mengumumkan, bahwa rajanya telah berubah menjadi muda kembali. Rakyat Galih Pakuan semua percaya, karena mereka pun mengetahui, rajanya seorang yang sakti.

Raja Galih Pakuan yang baru, merasa dirinya berkuasa. Ia Telah lupa pada pesan-pesan Sang Permana di Kusuma. Tindakannya kejam.

Pada suatu hari, Naganingrum dan Dewi Pangrenyep telah datang menghadap. Maksud kedatangan kedua permaisuri baginda akan menceritakan tentang impian mereka semalam.

“Tadi malam, kami bermimpi. Mimpi kami berdua ternyata sama. Kami bermimpi kejatuhan bulan. Bulan itu jatuh ke atas pangkuan kami. Menurut seorang brahmana bernama Ajar Sukaresi, kami berdua akan mendapat putera.”

Sudah tentu baginda terkejut. Kemudian ia menyuruh Lengser memanggil Ajar Sukaresi di gunung Padang. Tidak diceritakan perjalanan Lengser, Brahmana sakti yang bernama Ajar Sukaresi segera datang menghadap.

Baru saja Ajar Sukaresi menghadap. Baginda yang hendak mempermalukan Ajar Sukaresi telah siap-siap dengan tipu dayanya. Baginda telah menyuruh kedua permaisurinya memasang kuali pada perutnya, agar tampak seperti sedang mengandung.

“Coba katakan, apakah kedua permaisuriku ini sedang hamil atau tidak?” tanya baginda.

“Benar hamil, Tuanku,” jawab Ajar Sukaresi tanpa ragu.

“Coba katakan laki-laki atau perempuan anak-anakku itu?”

“Menurut penglihatan hamba yang bodoh, putera Baginda keduanya laki-laki.”

Alangkah marah baginda. Kuali yang diikatkan pada perut kedua istrinya segera diperlihatkan. Ajar Sukaresi diam saja. Rupanya kemarahan baginda tidak sampai di situ. Segera ia menyepak kuali itu jauh-jauh. Di kemudian hari, desa tempat jatuhnya kuali itu disebut Kawali (dan menjadi pusat pemerintahan di kemudian hari). Tiba-tiba baginda mencabut keris dan menikamkannya kepada Ajar Sukaresi. Tapi ajaib, kerisnya malah bengkok.

Baginda yang sangat terkejut melihat kejadian itu, untuk sesaat diam saja. Ki Ajar Sukaresi segera bersemadi. Tubuhnya lenyap kembali ke Gunung Padang.

Apa yang dikatakan oleh Ajar Sukaresi ternyata benar. Kedua permaisuri baginda benar-benar hamil. Setelah sembilan bulan Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putera. Anak laki-laki ini oleh baginda diberi nama Aria Banga (Hariang Banga) Sedangkan Naganingrum belum melahirkan. Naganingrum telah hamil sepuluh bulan,  tapi belum ada tanda-tanda akan melahirkan.

Pada suatu hari, raja merasa heran, karena sudah sepuluh bulan, Naganingrum hamil, tapi belum melahirkan. Baginda datang ke tempat Naganingrum hendak menjenguk isterinya. Ketika baginda datang, nampak Naganingrum sedang menangis. Karena merasa kasihan, baginda menghiburnya. Naganingrum agak senang juga hatinya.

Ketika itu udara sangat nyaman. Baginda tak sadar tertidur di samping Naganingrum. Di dalam tidurnya baginda mendengar suara yang berkata, “Hai raja lalim! Kau telah menyiksa Ajar Sukaresi yang tak berdosa. Kelak kau akan menerima balasan.”

Sudah tentu baginda sangat terkejut. Ia buru-buru bangun. Pada mulanya baginda menyangka suara yang didengarnya adalah suara Naganingrum. Tapi Naganingrum mengatakan, bahwa suara itu datang dari perutnya yang gendut.

Sepulang dari tempat Naganingrum, baginda merasa tidak tenang. Ia telah memanggil beberapa orang ahli nujum. Semua ditanyai tentang kandungan Naganingrum.

“Rupanya anak yang dikandung oleh permaisuri Naganingrum, seorang putera yang kelak akan membahayakan baginda, ” kata beberapa nujum kepada baginda.

Mendengar keterangan ini, baginda sangat marah. Hari itu juga Naganingrum diusir dari istana dan ditempatkan di luar kota.

Pada suatu hari, Dewi Pangrenyep dipanggil oleh baginda. Dewi Pangrenyep segera menghadap. Ia segera menyembah kepada baginda.

“Pangrenyep, puteramu Aria Banga akan kujadikan penggantiku kelak,” kata baginda.

Dewi Pangrenyep sangat gembira mendengar sabda baginda.

Lalu baginda berkata, “Tapi jika Naganingrum melahirkan, puteranya harus kau hanyutkan di sungai.”

Dewi Pangrenyep menerima perintah suaminya. Segera ia mengatur siasat. Semua dukun beranak dilarang membantu Naganingrum melahirkan. Semua harus meninggalkan rumahnya, bila Naganingrum melahirkan.

Saat Hariang Banga telah berusia 3 bulan, saat itu bulan ke-13 kehamilan Dewi Pohaci dan melahirkan anak laki-laki.  Atas upaya Dewi Pangrenyep tak seorang pun dayang-dayang  diperkenankan menolong Dewi Pohaci, melainkan Dewi Pangrenyep sendiri yang membantu persalinan Dewi Pohaci.

Dengan kelihaian dan akal licik Dewi Pangrenyep, putra Dewi Pohaci diganti dengan seekor anjing. Dikatakannya bahwa Dewi Pohaci telah melahirkan seekor anjing. Sementara Bayi Pohaci dimasukkannya dalam kandaga emas disertai telur ayam dan dihanyutkannya ke sungai Citandui.

Karena aib fitnah yang ditimbulkan oleh Dewi Pangrenyep seakan Dewi Pohaci Naganingrum yang telah melahirkan seekor anjing, Raja sangat murka dan menyuruh Si Lengser (pegawai istana) untuk membunuh Dewi Pohaci.

Si Lengser tidak sampai hati melaksanakan perintah Raja terhadap Dewi Pohaci Permaisuri junjungannya. Karena dalam benak Aki Lengser tidak mungkin Sang Dewi Melahirkan Anjing. Dan pasti ada sesuatu yang terjadi di dalam istana akibat persaingan Dua Permaisuri. Dewi Pohaci pun akhirnya diantarkannya ke desa tempat kelahirannya.

Sesampainya di istana Aki Lengser melaporkan bahwa Dewi Pohaci telah dibunuh. Mendengar laporan tersebut Sang Prabu dan Dewi Pangrenyep Gembira karena tujuan nya telah berhasil Untuk menyingkirkan Dewi Pohaci.

Tersebut lah seorang Aki bersama istrinya, yang bernama Aki Balagantrang. yang tinggal di desa Geger Sunten tanpa bertetangga. Aki Balagantrang sebenarnya masih krabat Kerajaan Galuh yang sengaja menyingkir dari keramaian. Sudah lama Aki Balagantrang menikah, tetapi belum dikarunia anak. Suatu malam Nini Balagantrang bermimpi kejatuhan bulan purnama. Mimpi itu diceritakannya kepada suami dan sang suami mengetahui takbir mimpi itu, bahwa mereka akan mendapat rezeki.

Malam itu juga Aki pergi ke sungai membawa jala untuk menangkap ikan.setelah beberapa lama tiba-tiba jala yang dilemparkan ke sungai terasa berat dan di tarik dan betapa terkejut dan gembira ia mendapatkan kandaga emas yang berisi Bayi beserta telur ayam, bayi tersebut di bawa pulang dan Aki Asuh dengan sabar dan penuh kasih sayang. Telur ayam itu pun mereka tetaskan, mereka memeliharanya hingga menjadi seekor ayam jantan yang ajaib dan perkasa yang diberi nama Nagawiru Dan Anak angkat ini mereka beri nama Sang Manarah.

Suatu ketika Aki Balagrantang mengajak Sang Manarah ke hutan dan tiba-tiba ada suara burung yang melengking nyaring sang Manarah pun bertanya suara apa itu.. Aki Balagrantang pun menjawab itu suara Ciung.Dan dan sang Manarah pun melihat hewan yang melompat kesana kemari di pepohonan dengan lincah dan dijelaskan itu namanya Wanara. Hal tersebut menjadi ilham bagi Aki Balagrantang untuk menyamarkan Sang Manarah dalam pengembaraan kelak. Dan di namailah sang Manarah dengan Nama Ciung Wanara sebagai nama samaran dlm pengembaraan.

Aki Balagantrang pun mempersiapkan sekelompok orang untuk di latih ilmu keprajuritan dan memberikan pelajaran tentang ilmu tata pemerintahan kepada Ciung Wanara. Geger Sunten menjadi basis kekuatan Aki Balagrantang untuk mengembangkan strategi mengembalikan tahta Galuh kepada Sang Manarah kelak.

Suatu saat bertanyalah Ciung Wanara kepada ayah dan ibu angkatnya. Tentang siapa sebenarnya Dia.

Terus terang Aki dan Nini Balagantrang menceritakan tentang asal-usul Ciung Wanara. Setelah mendengar cerita ayah dan ibu angkatnya, tahulah Ciung Wanara akan dirinya yang masih Putra Kerajaan Galuh. Dan di perintah kan untuk menghadap Ke Gunung Padang menemui seorang petapa sakti yang bernama Adjar Sukaresi. Berguru lah kepada Ki Adjar ikuti apa perintah nya karena Petapa tersebut yang kelak akan memberikan petunjuk bagaimana cara masuk ke Kerajaan.

Sesampainya di Gunung Padang Ciung Wanara segera menghadap Ki Adjar Sukaresi dan diterima sebagai murid serta di ajarkan beberapa ilmu kesaktian dan tatanegara.

Suatu saat Ciung Wanara diperintahkan untuk bertapa di Gunung Geger Sunten yang tdk jauh dari perkampungan tempat tinggal Aki Balagantrang… dalam pertapaan tersebut Ciung Wanara selalu di goda oleh sosok Naga yang kadang hanya kelihatan Kepala dan sesekali kelihatan ekornya aja. (kelak dr peristiwa itu terinspirasi pembuatan keris Nogo Siluman oleh Empu Gebang).

Setelah pertapaan selesai Ciung Wanara diperintahkan untuk menikah dengan Dewi Kencana Wangi cucu Resi Demunawan penguasa Galunggung. Serta harus pulang ke Geger Sunten. Dan jika suatu saat kerajaan mengadakan sabung Ayam hendaknya ikut serta dan minta taruhan agar dijadikan Putra Mahkota.

Ciung Wanara pun pergi dari Gunung Padang dan menjalankan semua perintah Sang Begawan yang tidak lain adalah Ayahanda nya sendiri.

Suatu hari Ciung Wanara pamit kepada Aki Balagantrang untuk menyabung ayamnya dengan ayam Raja, karena didengarnya Raja gemar menyabung ayam.

Dalam sambung tersebut taruhannya ialah, bila ayam Ciung Wanara kalah ia rela mengorbankan nyawanya. Tetapi bila ayam Raja kalah, Raja harus bersedia mengangkatnya menjadi Putra Mahkota. Raja menerima dengan gembira tawaran tersebut .

Sebelum ayam berlaga, ayam Ciung Wanara berkokok dengan anehnya, melukiskan peristiwa betahun-tahun yang lampau tentang Sang Prabu Permana Di Kusuma serta permaisuri yang dihukum mati dan kandaga emas yang berisi bayi yang dihanyutkan.

Raja tidak menyadari hal itu karena terpaku dengan pemikiran tentang siapa sebenarnya  Ciung Wanara. tetapi sebaliknya Aki Lengser sangat terkesan akan hal itu. Bahkan ia menyadari sekarang Ciung Wanara yang ada di hadapannya adalah putra Raja Junjungannya (Prabu Permana Hadi Kusuma)

Setelah persabungan, ayam Baginda Raja kalah dan ayam Ciung Wanara menang. Raja menepati janji dan Ciung Wanara diangkat menjadi putra Mahkota.

Dalam pesta pengangkatan Putra Mahkota, Raja membagi 2 kerajaan untuk Ciung Wanara dan Hariang Banga.

Selesai pesta pengangkatan putra Mahkota.

Pada suatu hari, Ciung Wanara yang telah membuat penjara besi, memanggil ayah dan ibu tirinya (Prabu Barma Wijaya /Tamperan) supaya memeriksa penjara. Baginda dan Dewi Pangrenyep tidak merasa curiga. Keduanya masuk ke dalam penjara. Ciung Wanara segera menguncinya.

Aria Banga sangat marah, ketika mendengar ayah dan ibunya dipenjarakan oleh Ciung Wanara.

Terjadilah perkelahian yang seru antara Ciung Wanara dengan Aria Banga. Tak seorangpun yang mengalah. Perkelahian dilakukan terus menerus siang dan malam.

Tiba-tiba, Ciung Wanara dapat menangkap Aria Banga. Kemudian melemparkannya ke seberang sungai Cipamali. Dan insyaflah Aria Banga, bahwa Ciung Wanara bukan lawan yang ringan. Ia mengaku kalah. Sungai Cipamali ditetapkan sebagai batas negara. Sebelah Timur milik Aria Banga dan sebelah Barat milik Ciung Wanara.

Ciung Wanara lalu menendang penjara besi yang berisi raja Barma Wijaya dan Dewi Pangrenyep. Penjara itu jatuh pada sebuah desa yang sampai sekarang terkenal sebagai desa Kandangwesi (Penjara Besi).

Dan Ciung Wanara segera menjemput ibunya Dewi Pohaci Naganingrum juga kakek dan nenek Balangantrang serta istrinya (Dewi Kencana Wangi) Mereka semua hidup berbahagia di dalam istananya yang kemudian bernama Pakuan Pajajaran.

Pada suatu ketika datanglah seorang Empu yang bernama Empu Gebang menghadap Sang Prabu dengan maksud untuk mengabdi… kedatangan Empu diterima Sang Prabu dan sang Prabu memerintahkan sang Empu untuk membuat keris pusaka yang menceritakan tentang lima kebaikan dan lima keutamaan serta Sebilah keris yang mengisahkan perjalanan pertapaannya saat di goda Naga.. dr ketrampilan Sang Empu Tercipta lah dua Bilah keris yang satu Diberinama Sang Pandowo Cinarito dan yang satunya Sang Nogo Siluman yang keduanya di persembahkan pada Sang Prabu.

Sang Manarah mencurahkan semuanya untuk kesejahteraan rakyat dan menjaga tali persaudaraan dengan kerajaan lain.

Dari perkawinan Sang Manarah (Ciung Wanara) dengan Dewi Kencana Wangi lahir seorang Putri yang bernama Dewi Purbasari dan kelak menikah dengan Sang Manistri (lutung Kasarung)

Sang Manistri yang akhirnya menggantikan Sang Manarah menjadi Raja. Sang Manarah Raja Pakuan selama 40 tahun dan akhirnya menjadi Petapa mengikuti jejak sesepuh (lengser Keprabon Madeg Pandito)

Hingga saat ini tempat ngahiyang Sang Manarah masih terjaga di situs Karang Kamulyan Ciamis.

Comments are closed.