Filosofi Orang Jawa

Bagikan postingan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Menjaga kebaikan, keindahan, dan kelestarian dunia harus dimulai dari diri manusia sendiri dengan menjaga kebenaran pemikiran dan ucapan, kebaikan perilaku, keharmonisan dan keindahan tatanan pergaulan hidup, baik dengan sesama manusia, dengan alam semesta, dan terutama dengan Tuhan. Kebenaran pemikiran dan ucapan membuahkan kejujuran, dan kejujuran membuahkan kebaikan. Terdapat kepastian yang tak terelakkan bahwa barang siapa berbuat baik dengan benar, niscaya dia akan tegak dan barang siapa berbuat salah dengan cara apa pun, pasti dia akan runtuh (wong bener jejer, wong salah sèlèh), tidak peduli apakah dia seseorang yang berdarah biru (trahing kusuma rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih) atau berharta dan berkedudukan sosial tinggi (bèr bandha bèr bandhu, kajèn kèringan), ataukah orang kecil (wong cilik) dengan status sosial rendah (wong pidak pejarakan). Sesungguhnya, harkat dan martabat seseorang lebih ditentukan oleh kata dan perbuatannya (ajining dhiri saka lathi lan pakarti). Barang siapa berbuat baik tampaklah kebajikannya, barang siapa berbuat kejahatan akan ketahuan pula keburukannya, dan barang siapa berbuat kejahatan niscaya akan akan sirna keberuntungan dan keberkatannya, dan dijauhkan dari kasih sayang dan anugerah Tuhan (becik ketitik ala ketara, sapa kang agawé ala bakal sirna wahyuné). Sehebat apa pun kekuatan keangkaramurkaan akan dapat ditundukkan oleh kebajikan (sura sudira jayaning kang rat, swuh brastha tekaping ulah darmastuti).

Dunia ini berputar dan berubah, begitu pula dengan nasib manusia juga berubah-ubah, berputar, berganti (cakramanggilingan). Oleh karena itu manusia jangan mudah takjub dengan kesementaraan perubahan yang memukau (aja gumunan, aja kagetan), dan jangan pula menyombongkan diri dan meremehkan orang lain dikala dirinya berjaya sementara orang lain sedang sengsara (aja dumeh). Boleh jadi suatu saat nanti status sosial seseorang atau keturunan orang yang status sosialnya tinggi menjadi sengsara, sementara orang kecil atau keturunan orang yang berstatus sosial rendah malahan bisa berjaya (tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati). Manusia harus berhati-hati dalam bertindak, jangan sampai melukai dan atau merugikan pihak lain. Setiap perbuatan yang dilakukan pasti akan berbuah akibat yang diterima oleh pelakunya(ngundhuh wohing pakarti). Perbuatan baik akan berbuah kebajikan, perbuatan buruk akan berbuah keburukan (sapa kang nandur bakal ngundhuh, sapa kang gawé bakal nganggo, sapa kang utang bakal nyaur).

Watak mulia harus diikhtiarkan dengan menjauhi perangai buruk seperti angkuh, bengis, jahil, serakah, panjang tangan, gila pujian (aja ladak lan jail, aja serakah, aja celimut, aja mburu aleman). Jangan menyombongkan kepandaian, harta, paras elok, dan busana (aja sira ngegungaken akal, bagus iku dudu mas picis, lawan dudu sandhangan). Jangan pula menyombongkan diri dengan keberanian, suka menantang untuk bertengkar, tidak tahu malu, iri hati, dengki, dan suka mencela orang lain (aja watak sira sugih wani, aja sok ngajak tukaran, aja anguthuh, aja ewanan lan aja jail, poma sira aja drengki, dahwen marang ing sasama). Dalam hidup hendaklah orang jangan menyombongkan diri dengan berlebih-lebihan membanggakan kekuatan baik fisik, harta, maupun kekuasaanya, keagungan keturunan atau kebesaran derajat sosialnya, dan kepandaiannya (aja adigang, adigung, adiguna).

Semua watak buruk itu harus dihindari, dijauhi, dan ditinggalkan. Orang harus senantiasa berusaha menanam kebajikan dan terus-menerus menyemai budi luhur sebagai keutamaan (nandur kabecikan, ndhedher kautaman). Orang yang baik selalu berusaha menyenangkan hati orang lain (amemangun karyénak tyasing sesama), seperti mengemukakan pendirian secara lembut (pambegané alus; landhep tanpa natoni), berhati-hati dalam berbicara (yèn angucap ngarah-arah), tingkah dan tutur katanya bersahaja (tingkah una-niné prasaja), setiap ucapannya terasa sejuk menembus kalbu karena dilandasi nurani yang bersih (saujaré manis trus ati), bertenggang rasa dan berbelas kasih kepada semua makhluk hidup (kèh tepané mring sagunging urip). Pendek kata, semua makhluk ingin dibahagiakannya (sama dèn arah raharjané).

Comments are closed.